Senin, 23 Januari 2012

CONTOH MAKALAH TENTANG ILMU PENGETAHUAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusia pun juga akan lebih baik. Tapi kenyataan dalam hidup ini, banyak orang yang menggunakan akal dan kepintaraannya untuk maksiat. Banyak orang yang pintar dan berpendidikan justru akhlaknya lebih buruk dibanding dengan orang yang tak pernah sekolah. Hal itu terjadi karena ketidakseimbangannya ilmu dunia dan akhirat.
Ilmu pengetahuan dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau akhirat. Orang yang berpengetahuan luas tapi tidak tersentuh ilmu agama sama sekali, maka dia akan sangat mudah terkena bujuk rayu syaitan untuk merusak bumi, bahkan merusak sesama manusia dengan berbagai tindak kejahatan. Disinilah alasan mengapa ilmu agama sangat penting dan hendaknya diajarkan sejak kecil. Kalau bisa, ilmu agama ini lebih dulu diajarkan kepada anak sebelum anak tersebut menerima ilmu dunia. Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia membutuhkan terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Al

B.     RUMUSAN MASALAH
                                 1.         Hadist-hadist menuntut ilmu
                                 2.         Hadist mengenai keistimewaan dan keutamaan menuntut ilmu
                                 3.         Hukum dari menuntut ilmu

C.    TUJUAN
                                 1.         Memahami isi kandungan hadist-hadist menuntut ilmu
                                 2.         Mengetahui hadist –hadist tentang keistimewaan dan keutamaan menuntut ilmu
                                 3.         Mengetahui hukum dari menuntut ilmu


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hadist-hadist menuntut ilmu[1]
عن ابي الد ردا ء قال سمعت ر سو ل الله صلى الله عليه و سلم يقو ل من سلك طريق يلتمس فيه علما سهل الله له طريق الى الجنة و ان الملا ئكة لتضع اجنحتها رضا لطالب العلم و ان  طا لب العلم يستغفر له من فى السما ء و الارض حتى الحيتا ن في الما ء و ان فضل العا لم على العا بد كفضل القمر على سا ئر الكوا كب ان العلماء هم و رثة الا نبياء ان الانبيا ء لم يوارثودينا را ولا درهما انما و رثوالعلم فمن اخده اخد بحظ وافر ( رواه احمد والترمدى و ابوداود وابن مجه )
Hadits 1
Dari Abi Darda dia berkata :”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda” : “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencali ilmu akan memintakan bagi mereka siapa-siapa yang ada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil bagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bagian yang besar (H.R.Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah).[2]
Hadits 2
عن انس بن ما لك قال قا ل رسو ل الله صلى الله عليه وسلم من خرج في طلب العلم كا ن في سبيلا ل الله حتى يرجع ( رواه التر مدى )
Dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulullah saw : “barangsiapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga kembali (HR.Tirmidzi).[3]
Hadits 3
قا ل النبي صلى الله عليه وسلم كن عا لما او متعلما او مستمعا او محبا ولا تكن خا مسا فتهلك ( روا ه بيهقي )
Telah bersabda Rasulullah saw : “Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai), atau orang yang belajar, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka (HR.Baehaqi)[4]

z  Kandungan Hadits Mencari Ilmu[5]
Untuk memperoleh kesuksesan atau kebahagian baik di dunia maupun di akhirat bahkan keduaduanya harus mempergunakan alat, alat untuk mencapai kesuksesan itu adalah ilmu. Ilmu ibarat cahaya yang mampu menerangi jalan seseorang untuk mewujudkan segala cita-citanya, sementara kebodohan akan membawa seseorang kepada kemadlaratan atau kesengsaraan yang membelenggu hidupnya.
Dalam hadits yang pertama Rasulullah saw menjelaskan :
1)      Allah akan memberikan berbagai kemudahan kepada para pencari ilmu, seperti kemudahan bergaul, kemudahan mendapatkan pekerjaan, termasuk kemudahan untuk menuju surga.
2)      Para malaikat akan memberikan perlindungan kepada para pencari ilmu dengan cara meletakkan sayapnya sebagai bukti kerelaan mereka terhadap apa yang dilakukan oleh para pencari ilmu.
3)      Aktivitas pencarian ilmu adalah aktivitas yang sangat mulia, sehingga kepada para pencari ilmu semua makhluk Allah baik yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di dalam air akan memberikan berbagai bantuan, mereka semua ikut mendoakan agar orang yang mencari ilmu selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
4)      Allah memberikan keuatamaan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya seluruh bintang.
5)      Para ulama (orang yang berilmu dan selalu menjadi pencari ilmu) adalah pewaris para Nabi, merekalah yang akan meneruskan para nabi dalam menegakan kebenaran dan memerangi kezaliman dengan menyebarkan ilmu yang diterimanya dari nabi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Semua nabi tidaklah mewariskan harta benda untuk umatnya melainkan mewariskan ilmu untuk kemaslahatan ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang berusaha menuntut ilmu dan berhasil menguasainya, maka dia telah berhasil mendapatkan bagian yang sangat besar sebagai modal untuk menghadap Allah swt.
Dalam hadits yang kedua Rasulullah menegaskan bahwa menuntut ilmu itu dinilai sebagai berjuang di jalan Allah, sehingga barang siapa yang mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda bahkan bila sesorang meninggal dunia saat mencari ilmu dia akan mendapatkan surganya Allah karena dinilai sama dengan mati syahid.
Sementara dalam Hadits ketiga Rasulullah menganjurkan agar umat Islam (kaum muslimin) mau menjadi orang yang :
1)      Berilmu (pandai), sehingga dengan ilmu yang dimiliki seorang muslim bisa mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Dan dengan demikian kebodohan yang ada dilingkungannya bisa terkikis habis dan berubah menjadi masyarakat yang beradab dan memiliki wawasan yang luas.
2)      Jika tidak bisa menjadi orang pandai yang mengajarkan ilmunya kepada umat manusia, jadilah sebagai orang yang mau belajar dari lingkungan sekitar dan dari orang orang pandai
3)      Jika tidak bisa menjadi orang yang belajar, jadilah sebagai orang yang mau mendengarkan ilmu pengetahuan. Setidaknya jika kita mau mendengarkan ilmu pengetahun kita bisa mengambil hikmah dari apa yang kita dengar.
4)      Jika menjadi pendengar juga masih tidak bisa, maka jadilah sebagai orang yang menyukai ilmu pengetahun, diantaranya dengan cara membantu dan memuliaka orang-orang yang berilmu, memfasilitasi aktivitas keilmuan seperti menyediakan tempat untuk pelaksanaan pengajian dan lain-lain.
5)      Janganlah menjadi orang yang kelima, yaitu yang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mau mendengar, dan tidak menyukai ilmu. Jika diantara kita memilih yang kelima ini akan menjadi orang yang celaka.
B.     Hadist tentang keistimewaan dan keutamaan menuntut ilmu
                 Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat berharga bagi setiap orang. Demikian juga halnya dalam agama yang mulia ini, ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi, dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat.” (QS.Al-Mujadilah : 11)[6]
                    Menurut penafsir terkenal M.Quraish Shihab, yang dimaksud dengan yang diberi ilmu pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri dengan mereka dengan pengetahuan[7]. Dari pengertian tersebut diartikan bahwa kaum beriman dibagi menjadi 2 kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal shalih, dan yang kedua beriman dan beramal shaleh dan memiliki  pengetahuan. Maka dari golongan kedua itulah yang mempunyai derajat lebih tinggi, Karena tidak hanya beriman dan beramal shaleh tetapi juga memiliki ilmu pengetahuan yang disandangnya.
Dalam hal ini dijelaskan pula dalam hadist mengenai keistimewaan yang akan didapatkan oleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya adalah :

  من سلك طريق يلتمس فيه علما سهل الله له طريق الى الجنة(رواه مسلم )

Abu Hurairah ra. Berkata bahwa rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan itu ke surga.”HR.Muslim[8]
                    Hadist ini menjelaskan mengenai keistimewaan bagi orang-orang yang menuntut ilmu pengetahuan. Dengan memiliki ilmu pengetahuan, maka kita bisa mengetahui tentang perkembangan ilmu maupun teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini Allah akan memudahkan jalan menuju ke surga bagi orang-orang yang berilmu, akan tetapi dengan syarat orang yang berilmu itu juga mau beriman kepada Allah.
                    Allah juga memberikan keistimewaaan bagi orang yang berilmu yang mau mengamalkan ilmunya kepada orang lain, maka orang tersebut akan diberi pahala sebanyak pahala orang-orang yang telah diajari olehnya. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadist di bawah ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (روا ه مسلم )

Abu Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :”Barangsiapa yang mengajak orang kepada suatu jalan yang baik, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala pengikutnya dengan tiada mengurangi sedikitpun dari pahala mereka sendiri. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun."HR. Muslim.[9]
                    Mengenai belajar dan mengajar, Mu’adz bin Jabal mengatakan : “Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntunnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan membelanjakan hartanya kepada ahlinya adalah kedekatakan (qurbah). Ia adalah teman yang menghibur dalam kesendirian, sahabat dalam kesepian, petunjuk dalam suka dan duka, pembantu di sisi sahabat karib, teman di sisi kawan dan penerang jalan surga. Dengannya allah menjadikan seorang pemimpin. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Ilmu di ilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang yang celaka.[10]
                    Dari segi akal, jelaslah bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah SWT dan menjadi dekat dengan-Nya. Ia pun memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal. Ilmu menimbulkan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Dunia adalah tanaman akhirat, maka orang alim dengan ilmunya menanam bagi dirinya kebahagiaan abadi dengan mendidik akhlaknya dengan tuntutan ilmu. Barangkali pula dengan pengajaran ia menanamkan kebahagiaan abadi, karena ia mendidik akhlak orang lain dan menyeru mereka kepada perbuatan yang yang mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala.[11] Dijelaskan dalam al qur’an surah An Nahl ayat 125:

 ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ‌ۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ‌ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۖ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ (١٢٥)
Artinya:
“Serulah(manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”.(QS. An Nahl: 125)[12]
                    Menurut tafsir Al-Jalaalayn “Serulah (manusia, wahai Muhammad) ke jalan RabbMu(agamanya) dengan hikmah (Al’qur’an) dan nasihat yang baik dan debatlah mereka dengan debat yang baik ( debat yang menyeru manusia kepada Allah dengan Al-Qur’an). Sesungguhnya Tuhan-mu yang maha mengetahui semuanya.[13]

C.    Hukum Menuntut Ilmu  
Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau mendengar.[14] Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam Hadist Nabi Muhammad saw : 
 مٍطَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 
( رواه ابن مجه و بيهقي و ابن عبدا لب رو ابن ادي من انس بن ما لك )
 “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam”
(Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)[15]
Akan tetapi Hukum wajib menuntut ilmu itu adakalanya wajib 'ain dan adakalnya wajib kifayah. Ilmu yang hukumnya wajib kifayah ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya. Ilmu yang hukumnya wajib 'ain ialah ilmu yang mempelajari tentang  shalat, puasa, zakat dan haji.
Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; mengetahui hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat pada zaman nabi, baik yang berhubungan dangan 'aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.  Nabi Muhammad saw. bersabda:  
من ارا د الدنيا فعليه بالعلم ومن ارا د الا خرة فعليه با لعلم ومن اراد هما فعليه بالعلم  ( روا ه البخا رى و مسلم )
Artinya :
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR.Bukhari dan Muslim)[16]
Dalam islam juga dijelaskan, bahwasanya salah satu hal yang tidak akan terputus ketika kita sudah meninggal dunia adalah memiliki ilmu yang bermanafaat. Oleh karena itu dalam islam mewajibkan umat muslim untuk mencari ilmu.
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah Saw bersabda:
ادا ما ت ابن ا د م انقطع عمله الا من ثلا ث : صد قة جا رية او علم ينتفع به او ولد صا لح يد عو له ( روا ه مسلم )
Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka putuslah segala (pahala) amal perbuatannya, kecuali pahala dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan. (HR.Muslim)[17]
Dijelaskan pula dalam hadist, sebagai berikut ;

      (الطبرانى)  تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وِالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ
“Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.” (HR. Al-Thabrani)[18]
Maksud dari hadist di atas adalah kita disuruh untuk mencari ilmu dengan sikap yang baik dan sopan terhadap orang yang mengajar kita. Agar ilmu yang kita dapatkan akan mudah dimengerti dan bisa bermanfaat.


       BAB  III                                                                                                                                  PENUTUP

                 Demikian makalah hadist tentang ilmu pengetahuan yang telah saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

A. Kesimpulan
                 Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt. Rasulullah Saw., bersabda:
لَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍمٍطَ 

“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam”  (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)
B.  Saran

Bagi para pembaca diharapkan dapat memanfaatkan makalah yang telah saya buat ini dengan sebaik mungkin.







                   BAB IV    DAFTAR PUSTAKA                                                                                                                                                                                                    [1] Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Semester 1
[2] Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Semester 1
[3] Dr. Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadist Terpilih, Gema Insani Press, Jakarta: 2003
[4] Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Semester 1
[5] Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Semester 1

[6] PROF.R.H.A. Soenarjo S.H, Al-Qur’an dan Terjemahnya juz 1-30: PT Kumodasmoro Grafindo Semarang, 1994.       
[7] M.Quraisy Shihab, Tafsir Al misbah; pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an vol 14, hal 79, Lentera Hati :Jakarta,2002.
[8] Abu Fajar Alqalami  dan Abd Wahid Albanjari, Terjemah Riyadushalihin, hal 166, Gitamedia Press, Jakarta:2004
                                                                                                                                                    [9] Abu Fajar Alqalami  dan Abd Wahid Albanjari, Terjemah Riyadushalihin, hal 167, Gitamedia Press, Jakarta:2004

[10] Al Ghazali, Mutiara Ihya’ Ulummuddin, hal 25-26, Mizan Media Utama, Bandung: 2003
[11] Imam Ghazali, Mukhtasyar Ihya’ Ulumuddin, hal 4-5, Pustaka Amani,Jakarta: 2007
[12] PROF.R.H.A. Soenarjo S.H, Al-Qur’an dan Terjemahnya juz 1-30: PT Kumodasmoro Grafindo Semarang, 1994.
[13] Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi, Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini,
Darus Salam, Riyadh, KSA
[14] Hadisaputra ihsan, Anjuran untuk Menuntut Ilmu Pengetahuan Pendidikan dan Pengalamannya, Surabaya: 1981
[15] Dr. Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadist Terpilih, Gema Insani Press, Jakarta: 2003
[16] Hadisaputra ihsan, Anjuran untuk Menuntut Ilmu Pengetahuan Pendidikan dan Pengalamannya, Surabaya: 1981
[17] M.Afwan Chafidh dan A. Ma’ruf Asrori, Tradisi Islami Panduan prosesi-perkawinan-kematian hal 82, khalista , Surabaya: 2009
[18] Dr. Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadist Terpilih, Gema Insani Press, Jakarta: 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar